Pemprov Banten Janjikan Kemudahan Investasi Waralaba
Pemprov Banten menegaskan dukungan investasi waralaba, dengan perhatian pada tenaga kerja lokal, kolaborasi, dan penguatan manajemen.
Diterbitkan

Pemerintah Provinsi Banten menjanjikan kemudahan investasi bagi usaha waralaba untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah di Tangerang, Jumat, 6 November 2026, dalam pembahasan mengenai peluang pengembangan komunitas waralaba dan pameran Info Franchise & Business Concept (IFBC) Expo 2026.
Dukungan investasi dikaitkan dengan tenaga kerja lokal
Menurut laporan ANTARA, Dimyati menilai usaha waralaba memiliki sejumlah keunggulan, termasuk kemampuan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Karena itu, dukungan terhadap investasi waralaba ditempatkan sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah memacu kegiatan ekonomi.
“Pemprov Banten akan terus mendukung penuh investasi di sektor usaha waralaba ini,” ujarnya.
Komitmen tersebut menjadi pesan utama bagi pemilik merek maupun calon mitra yang mempertimbangkan pengembangan usaha di Banten. Fokus yang disampaikan bukan hanya pembukaan usaha, melainkan juga manfaatnya bagi masyarakat melalui kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Pernyataan dukungan itu perlu dibaca sebagai komitmen pemerintah daerah. Dalam penjelasan yang diberitakan ANTARA, Dimyati tidak merinci bentuk fasilitas investasi, perubahan prosedur perizinan, insentif tertentu, ataupun jadwal pelaksanaannya. Karena itu, komitmen tersebut belum dapat disamakan dengan pengumuman program bantuan atau aturan baru yang sudah memiliki ketentuan teknis.
Bagi komunitas waralaba, perbedaan ini penting saat menyusun rencana ekspansi. Dukungan kebijakan memberikan arah, sedangkan keputusan pembukaan usaha tetap memerlukan kepastian mengenai persyaratan dan layanan yang dapat digunakan di lokasi tujuan.
Kolaborasi dan manajemen menjadi perhatian
Dimyati menekankan bahwa pengembangan komunitas waralaba membutuhkan kerja sama banyak pihak. Ia menyebut pemerintah, pengusaha, akademisi, pegiat media sosial, hingga masyarakat luas sebagai unsur yang perlu terlibat.
Penekanan tersebut menempatkan pengembangan waralaba sebagai pekerjaan bersama, bukan hanya urusan pemilik merek dan mitra usaha. Pemerintah daerah menyampaikan dukungan investasi, sementara pelaku usaha tetap diminta memperhatikan kesiapan internal bisnisnya.
Secara khusus, Dimyati mengimbau pengusaha membangun manajemen yang solid dan citra positif di pasar agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang. Pesan ini mengaitkan perluasan jaringan dengan kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan, bukan semata-mata menambah titik penjualan.
Penguatan internal juga menjadi perhatian Kementerian UMKM dalam acara IFBC di Tangerang pada hari yang sama. Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman menekankan pentingnya fundamental bisnis, sistem operasional terstandar, serta tata kelola profesional.
Aspek yang disebut Bagus mencakup standardisasi prosedur operasional, konsistensi kualitas produk dan layanan, serta legalitas usaha, termasuk pemenuhan ketentuan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba atau STPW. Dalam konteks dukungan investasi Banten, pesan tersebut memberi penyeimbang: peluang pengembangan usaha perlu diikuti kesiapan pengelolaan dan kepatuhan.
IFBC sebagai ruang memperluas jaringan
Dimyati menyebut IFBC Expo 2026 membuka peluang besar bagi pertumbuhan usaha waralaba di tengah masyarakat. Menurutnya, pameran tersebut juga dapat menumbuhkan semangat inovasi, meningkatkan motivasi berusaha, dan memperluas jaringan.
Dengan demikian, manfaat pameran yang disorot pemerintah daerah tidak terbatas pada transaksi. Pertemuan antarpelaku usaha juga dipandang sebagai kesempatan untuk membangun hubungan dan mendorong gagasan pengembangan bisnis.
Bagi calon mitra, pesan tentang inovasi dan jaringan dapat menjadi dasar untuk memanfaatkan pameran secara lebih terarah. Selain mengenali tawaran usaha, pengunjung dapat menjadikan pertemuan dengan pemilik merek sebagai kesempatan membahas kesiapan manajemen dan standar operasional yang sebelumnya ditekankan pemerintah.
Namun, pernyataan mengenai peluang pameran tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil investasi yang sudah terealisasi. Komitmen Pemprov Banten dalam pemberitaan tersebut berfokus pada dukungan dan potensi pengembangan, bukan pengumuman nilai transaksi atau jumlah pembukaan gerai baru.
Kuliner daerah dinilai memiliki peluang
Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar, menjelaskan bahwa waralaba merupakan konsep pemasaran sekaligus strategi perluasan bisnis. Ia menegaskan bahwa waralaba bukan sekadar kemitraan kerja sama biasa.
Menurut Anang, konsep tersebut perlu terus dikembangkan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia juga menyoroti kekayaan kuliner dan masakan khas daerah Indonesia sebagai potensi yang dapat dikembangkan melalui waralaba.
Pandangan itu memperluas konteks dukungan Pemprov Banten: pengembangan komunitas waralaba bukan hanya tentang menarik investasi, tetapi juga membuka ruang bagi usaha dengan identitas lokal untuk memperluas jangkauan. Meski demikian, Anang tidak menyebut merek atau rencana ekspansi tertentu dalam penjelasan tersebut.
Langkah praktis: Calon mitra dan pemilik merek sebaiknya menindaklanjuti komitmen Banten dengan memeriksa layanan investasi yang benar-benar tersedia, memastikan legalitas, serta menilai kesiapan manajemen sebelum menetapkan rencana pembukaan usaha.



