Momoyo Tawarkan Kemitraan Mulai Rp250 Juta, Ini Tahap Bukanya
Momoyo menawarkan kemitraan mulai Rp250 juta dengan proses pembukaan satu hingga dua bulan, serta membidik kota lapis kedua dan ketiga.
Diterbitkan

Momoyo menawarkan kemitraan gerai es krim dan minuman dengan investasi mulai Rp250 juta serta perkiraan proses pembukaan satu hingga dua bulan. Dalam pemberitaan Media Indonesia pada 15 Oktober 2026, perusahaan memaparkan tahapan persiapan gerai dan peluang pengembangan jaringan di kota lapis kedua dan ketiga, termasuk wilayah kabupaten.
Investasi awal tanpa biaya waralaba dan royalti
Menurut keterangan perusahaan yang diberitakan Media Indonesia, paket kemitraan Momoyo ditawarkan tanpa biaya waralaba maupun biaya royalti. Dalam skema tersebut, mitra memperoleh seluruh keuntungan usaha setelah dikurangi biaya operasional. Penawaran ini menjadi salah satu pilihan kemitraan makanan dan minuman bagi calon pengusaha dalam komunitas waralaba Indonesia.
Nilai Rp250 juta disebut sebagai investasi mulai, bukan angka yang dinyatakan berlaku sama untuk setiap gerai. Karena itu, calon mitra perlu meminta rincian tertulis mengenai komponen investasi dan kebutuhan dana sesuai lokasi yang akan dipilih. Pemisahan antara biaya paket, persiapan pembukaan, dan kebutuhan operasional penting dilakukan sebelum menandatangani kontrak.
Ketiadaan biaya waralaba dan royalti juga perlu dibaca bersama ketentuan pembagian keuntungan tersebut. Yang menjadi hak mitra adalah keuntungan setelah biaya operasional, bukan seluruh penerimaan penjualan. Dengan demikian, penilaian terhadap penawaran sebaiknya tidak berhenti pada besarnya investasi awal atau tidak adanya dua jenis biaya itu.
Bagi calon mitra, pertanyaan praktisnya adalah bagaimana susunan biaya gerai diterapkan dalam perjanjian dan bagaimana dukungan perusahaan diberikan selama usaha berjalan. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membantu memperjelas tanggung jawab masing-masing pihak.
Pembukaan gerai diperkirakan satu hingga dua bulan
Momoyo menyebut pembukaan gerai dilakukan melalui tujuh tahapan yang diperkirakan berlangsung selama satu hingga dua bulan. Prosesnya dimulai dengan penandatanganan kontrak kemitraan, kemudian dilanjutkan evaluasi lokasi. Dalam evaluasi tersebut, perusahaan mempertimbangkan kepadatan penduduk dan potensi pasar.
Setelah lokasi disetujui, calon mitra memasuki tahap konfirmasi desain, pengadaan peralatan, serta penyiapan pasokan bahan baku. Staf gerai kemudian mengikuti pelatihan selama satu minggu sebelum gerai memasuki tahap pembukaan awal atau soft opening.
Urutan itu memperlihatkan bahwa kesiapan gerai tidak hanya berkaitan dengan tersedianya tempat berjualan. Desain, peralatan, pasokan, dan pelatihan staf merupakan bagian dari persiapan yang disampaikan perusahaan sebelum operasional dimulai.
Perkiraan satu hingga dua bulan tersebut sebaiknya digunakan calon mitra sebagai dasar untuk membahas jadwal kerja, bukan dianggap sebagai tanggal pembukaan yang otomatis berlaku bagi setiap lokasi. Calon mitra dapat meminta penjelasan mengenai penanggung jawab setiap tahap dan syarat yang harus dipenuhi sebelum beralih ke tahap berikutnya.
Khusus untuk pelatihan, hal yang layak diperjelas adalah materi yang diberikan, siapa saja yang perlu mengikutinya, serta bentuk pendampingan saat pembukaan awal. Dengan begitu, kesiapan staf dapat dibahas sejak masa persiapan, bukan baru ketika gerai mulai melayani pelanggan.
Kota lapis kedua dan ketiga menjadi peluang pengembangan
Selain menyasar pasar perkotaan, Momoyo melihat peluang pengembangan jaringan di kota lapis kedua dan ketiga, termasuk wilayah kabupaten. Perusahaan menyatakan jaringan bisnisnya telah menjangkau 38 provinsi, 98 kota, dan 416 kabupaten di Indonesia.
Angka tersebut merupakan keterangan perusahaan mengenai jangkauan wilayah, bukan jumlah gerai. Pembedaan ini penting agar luas cakupan jaringan tidak dibaca sebagai jumlah unit usaha yang sudah beroperasi.
Arah pengembangan di luar kota besar menempatkan evaluasi lokasi sebagai bagian yang relevan dalam penawaran Momoyo. Kepadatan penduduk dan potensi pasar, dua unsur yang disebut perusahaan, tetap perlu dilihat pada calon lokasi yang spesifik.
Bagi calon mitra di kabupaten, cakupan jaringan nasional dapat menjadi titik awal untuk menanyakan kesiapan dukungan di daerahnya. Hal yang perlu dikonfirmasi mencakup pengaturan pasokan bahan baku, persiapan peralatan, dan pelaksanaan pelatihan sesuai tahapan pembukaan yang ditawarkan.
Estimasi omzet perlu dibedakan dari keuntungan
Momoyo menyampaikan estimasi omzet gerai sebesar Rp180 juta hingga Rp600 juta per bulan. Angka itu merupakan perkiraan perusahaan, bukan kepastian pendapatan untuk setiap calon mitra. Omzet juga tidak sama dengan keuntungan yang diterima setelah biaya operasional dikurangi.
Sebagai konteks penilaian penawaran, CEO dan Pendiri DK Consulting Djoko Kurniawan, dalam pemberitaan Bisnis.com pada 13 Oktober 2026, mengingatkan bahwa proyeksi penjualan merupakan prediksi dan usaha waralaba tetap memiliki risiko rugi. Ia menyarankan calon mitra mengunjungi gerai secara langsung untuk membandingkan analisis bisnis yang ditawarkan dengan kondisi operasional di lapangan.
Untuk menilai penawaran Momoyo, calon mitra dapat meminta dasar penyusunan estimasi omzet dan membahas kesesuaiannya dengan lokasi yang diajukan. Langkah praktisnya: periksa rincian investasi, pastikan tanggung jawab setiap tahap pembukaan, dan uji proyeksi penjualan melalui kunjungan gerai sebelum menyepakati kemitraan.
Sumber
- Minat Waralaba Meningkat, Proyeksi Omzet hingga Rp600 ...
- Bos ACES Ungkap Alasan Kawan Lama Tinggalkan ACE Hardware dan Pilih AZKO
- FLEI Business Show membuka peluang ekspansi ke kawasan regional
- Mendag Ajak Anak Muda Berbisnis Waralaba
- Waralaba Lokal Bidik Pasar Global, Mendag Dorong Anak Muda Mulai Berwirausaha - sisipublik.com
- Tanpa Monopoli Bahan Baku, Kemitraan Sosis Bar SoDog Dobrak Pasar Waralaba Kuliner - Stapo.id
- Mau Terjun ke Bisnis Waralaba? Cermati Hal Ini Sebelum Investasi



