WALI: Kepercayaan Jadi Fondasi Pertumbuhan Waralaba
WALI menekankan kualitas kemitraan, bukan hanya nilai investasi, sebagai fondasi pertumbuhan komunitas waralaba Indonesia.
Diterbitkan

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Levita G. Supit, menempatkan kepercayaan dan kualitas kemitraan sebagai fondasi pertumbuhan komunitas waralaba Indonesia. Dalam temu media di Jakarta, Rabu (16/9/2026), ia menekankan bahwa perkembangan usaha tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga hubungan yang dibangun pemilik merek dan mitra sejak awal.
Pertumbuhan perlu ditopang hubungan jangka panjang
Menurut laporan Tribunnews pada 16 September 2026, Levita menyampaikan pandangan tersebut dalam temu media terkait FLEI Business Show 2026. Ia menggarisbawahi pentingnya kepercayaan untuk menjaga hubungan usaha jangka panjang, bukan sekadar mempertemukan penawaran merek dengan modal calon mitra.
“Waralaba tumbuh karena kepercayaan, dan kepercayaan dibangun lewat pertemuan langsung,” ujar Levita. Pernyataan itu menempatkan proses saling mengenal sebagai bagian penting sebelum kerja sama dilakukan. Calon mitra perlu memahami usaha yang ditawarkan, sementara pembicaraan dengan pemilik merek menjadi kesempatan untuk memperjelas bentuk hubungan yang akan dijalani.
Levita, yang juga menjabat Ketua Komite Tetap Kadin bidang Franchise, Networking dan E-Commerce, menyebut nilai bisnis waralaba di Indonesia telah melampaui Rp143 triliun. Ia menyampaikan pertumbuhan rata-rata sebesar 10–15 persen per tahun, terutama ditopang usaha makanan dan minuman, jasa, serta ritel.
Angka tersebut merupakan keterangan Levita sebagaimana dimuat dalam laporan itu. Ringkasan riset yang tersedia tidak merinci periode penghitungan, metodologi, maupun pembagian nilai menurut kelompok usaha. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sebagai gambaran skala komunitas waralaba yang disampaikan WALI, bukan ukuran hasil usaha yang akan diperoleh setiap mitra.
Nilai investasi bukan satu-satunya pertimbangan
Pesan utama Levita adalah perlunya melihat kemitraan secara lebih utuh. Besaran investasi tetap menjadi pertimbangan, tetapi calon mitra juga perlu memahami model bisnis, legalitas, dukungan operasional, dan pola hubungan dengan pemilik merek sebelum mengambil keputusan.
Keempat hal itu memberi arah yang lebih konkret bagi percakapan awal. Pembahasan model bisnis membantu calon mitra memahami cara usaha dijalankan. Pembahasan legalitas berfokus pada kejelasan usaha yang ditawarkan. Sementara itu, dukungan operasional dan pola hubungan menyangkut bagaimana pemilik merek serta mitra akan bekerja bersama setelah kesepakatan dibuat.
Dengan kerangka tersebut, perbandingan antarmerek sebaiknya tidak berhenti pada kebutuhan dana. Calon mitra dapat menggunakan pertemuan awal untuk meminta penjelasan tentang sistem usaha dan bentuk dukungan yang menyertai penawaran. Ini merupakan langkah praktis yang sejalan dengan penekanan WALI pada pemahaman sebelum kemitraan dimulai.
Kepercayaan, dalam konteks pernyataan Levita, berkaitan dengan kesempatan untuk bertanya dan memperoleh kejelasan. Pertemuan langsung memberi ruang bagi proses itu, tetapi keputusan tetap perlu bertumpu pada informasi mengenai usaha dan hubungan kemitraan, bukan hanya kesan saat bertemu.
Pameran menjadi ruang bertanya dan membandingkan
Levita menyebut pameran sebagai salah satu tempat bagi calon mitra untuk berbicara langsung dengan pemilik merek. “Di FLEI, calon mitra bisa berbicara dengan pemilik merek, bertanya, membandingkan, dan memastikan bisnis yang dipilih memiliki legalitas yang jelas,” katanya.
Fungsi pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari pesan WALI. Bagi calon mitra, kehadiran berbagai merek memberi kesempatan untuk menggali informasi model bisnis dan skema kerja sama. Percakapan tidak harus langsung berujung pada kesepakatan; penjelasan yang diperoleh dapat menjadi bahan untuk menilai kecocokan penawaran dengan kebutuhan calon mitra.
Sebagai konteks, FLEI Business Show 2026 merupakan pameran waralaba dan lisensi edisi ke-27 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Nusantara International Convention & Exhibition (NICE) PIK 2. Laporan tersebut menyebut pameran akan menghadirkan ratusan merek dari berbagai bidang usaha.
Program Business Matching juga disiapkan sebagai ruang pertemuan pemilik merek dengan calon penerima waralaba, investor, distributor, dan pelaku usaha. Dalam konteks pandangan Levita, ruang pertemuan ini relevan untuk membuka komunikasi dan menggali informasi sebelum para pihak menentukan langkah kerja sama berikutnya.
Bekal praktis sebelum memilih kemitraan
Bagi komunitas waralaba Indonesia, pernyataan WALI mengingatkan bahwa pertumbuhan nilai bisnis perlu disertai perhatian terhadap kualitas hubungan. Skala pasar yang disampaikan Levita memberikan konteks, sedangkan pemahaman model usaha, kejelasan legalitas, dan dukungan operasional tetap menjadi pokok pembicaraan pada tingkat kemitraan.
Langkah praktis bagi calon mitra adalah menyiapkan pertanyaan tentang empat hal tersebut sebelum bertemu pemilik merek. Gunakan pertemuan untuk membandingkan penjelasan, bukan hanya besaran investasi. Jadikan kejelasan informasi sebagai bekal membangun kepercayaan sebelum memutuskan bekerja sama.



