Rugi MAP Boga Rp157,5 Miliar, Pendapatan Naik hingga September
Pendapatan MAP Boga naik 9,02% hingga September 2026, tetapi rugi bersih melebar. Beban pokok penjualan tumbuh lebih cepat daripada pendapatan.
Diterbitkan

PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), pengelola gerai Starbucks di Indonesia, membukukan pendapatan Rp2,56 triliun sepanjang Januari–September 2026. Namun, kenaikan penjualan tersebut belum menghasilkan perbaikan laba: rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp157,50 miliar, membengkak 44,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan tumbuh, hasil akhir belum membaik
Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang diberitakan Warta Ekonomi pada 27 Oktober 2026, pendapatan MAPB meningkat 9,02% secara tahunan. Pada sembilan bulan pertama 2025, perusahaan mencatatkan pendapatan Rp2,35 triliun. Dengan demikian, terdapat tambahan pendapatan sekitar Rp210 miliar pada periode pelaporan tahun ini.
Angka tersebut memperlihatkan pertumbuhan penjualan di tingkat perusahaan. Akan tetapi, pertumbuhan itu berjalan beriringan dengan peningkatan kerugian. Rugi bersih MAPB pada Januari–September 2025 tercatat Rp108,69 miliar, lebih kecil daripada kerugian dalam periode pembanding tahun ini.
Pemisahan antara pendapatan dan laba menjadi penting dalam membaca laporan ini. Pendapatan menunjukkan nilai penjualan yang dibukukan, sedangkan hasil akhir perusahaan turut dipengaruhi biaya serta beban lainnya. Dalam kasus MAPB, tambahan penjualan belum cukup untuk memperbaiki hasil akhir tersebut.
Bagi komunitas waralaba, laporan ini memberikan bahan evaluasi yang lebih spesifik daripada sekadar melihat pertumbuhan omzet. Kinerja penjualan dan kemampuan mempertahankan keuntungan perlu dibaca bersamaan agar kenaikan pendapatan tidak langsung dianggap sebagai perbaikan kesehatan keuangan.
Beban pokok naik lebih cepat daripada penjualan
Salah satu tekanan yang terlihat dalam laporan MAPB adalah kenaikan beban pokok penjualan. Hingga akhir September 2026, nilainya mencapai Rp831,12 miliar, dibandingkan Rp719,56 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Beban pokok penjualan tersebut naik 15,50% secara tahunan, atau bertambah sekitar Rp111,56 miliar. Laju kenaikannya lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan perusahaan yang sebesar 9,02%. Perbedaan laju pertumbuhan ini menekan margin laba bruto.
Secara nominal, laba bruto masih meningkat. MAPB mencatatkan laba bruto sekitar Rp1,73 triliun pada Januari–September 2026, dibandingkan sekitar Rp1,63 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Namun, margin laba bruto turun dari sekitar 69,38% menjadi 67,53%.
Dengan kata lain, perusahaan menghasilkan laba bruto yang lebih besar dalam nilai rupiah, tetapi porsi laba bruto terhadap pendapatannya mengecil. Dua indikator tersebut tidak bertentangan: nilai penjualan yang meningkat dapat menghasilkan tambahan laba bruto, sekaligus menyisakan margin yang lebih rendah ketika beban pokok tumbuh lebih cepat.
Data ini menunjukkan mengapa perubahan nilai biaya perlu dibandingkan dengan perubahan pendapatan, bukan dilihat secara terpisah. Kenaikan laba bruto secara nominal saja belum menggambarkan keseluruhan tekanan terhadap profitabilitas perusahaan.
Kerugian melebar, total aset menyusut
Tekanan pada hasil akhir terlihat dari tambahan kerugian sekitar Rp48,81 miliar dibandingkan Januari–September 2025. Rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat dari Rp108,69 miliar menjadi Rp157,50 miliar.
Margin rugi bersih juga melebar, dari sekitar 4,63% menjadi 6,15%. Artinya, bukan hanya nilai kerugiannya yang bertambah; besarnya kerugian relatif terhadap pendapatan juga meningkat. Hal ini memperjelas bahwa pertumbuhan penjualan belum diikuti perbaikan profitabilitas.
Di sisi posisi keuangan, total aset MAPB tercatat Rp2,54 triliun per 30 September 2026. Jumlah tersebut turun 9,61% dibandingkan Rp2,81 triliun pada 31 Desember 2025.
Periode pembanding aset perlu dibedakan dari pendapatan dan kerugian. Pendapatan serta rugi bersih dibandingkan antara sembilan bulan pertama 2026 dan sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, posisi aset pada akhir September 2026 dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2025.
Seluruh angka tersebut merupakan kinerja MAPB di tingkat perusahaan. Angka kerugian perseroan tidak boleh langsung diperlakukan sebagai ukuran kerugian setiap gerai Starbucks, karena cakupan pelaporannya berbeda.
Pelajaran membaca kinerja bagi komunitas waralaba
Laporan MAPB menempatkan tiga ukuran dalam satu gambaran: pendapatan meningkat, margin laba bruto menurun, dan rugi bersih membesar. Ketiganya perlu dibaca bersama untuk memahami arah kinerja, terutama ketika pertumbuhan penjualan terlihat positif.
Memasuki kuartal IV 2026, pengendalian biaya, keberlanjutan pertumbuhan penjualan, dan perbaikan margin menjadi hal yang perlu dicermati dalam perkembangan kinerja MAPB berikutnya. Laporan hingga September menunjukkan tekanan yang sudah terjadi, bukan kepastian mengenai hasil akhir tahun.
Bagi calon mitra maupun pengelola usaha dalam komunitas waralaba, pelajaran praktisnya adalah memeriksa omzet, beban pokok, margin, dan hasil bersih secara bersamaan. Gunakan data pada tingkat usaha yang sedang dinilai, serta pastikan periode pembandingnya setara sebelum menarik kesimpulan.



