Mengatur Tanggung Jawab Keluhan Pelanggan Waralaba
Tentukan siapa menangani keluhan, menyetujui pengembalian dana, dan menanggung biaya sebelum bisnis Anda ditawarkan sebagai waralaba.
Diterbitkan

Saat bisnis masih dikelola sendiri, pemilik biasanya langsung memutuskan penggantian produk atau pengembalian uang. Ketika bisnis dikembangkan dalam komunitas waralaba, keputusan tersebut melibatkan dua pihak dengan pembukuan dan kewenangan berbeda. Sebelum menawarkan bisnis kepada calon mitra, siapkan pembagian tanggung jawab keluhan pelanggan agar pelayanan tidak tersendat dan biaya penyelesaiannya tidak menjadi sumber perselisihan.
1. Pisahkan pelayanan pelanggan dari pembebanan biaya
Pelanggan membutuhkan penyelesaian, bukan penjelasan panjang mengenai hubungan pemberi dan penerima waralaba. Karena itu, bedakan dua keputusan: siapa yang pertama membantu pelanggan dan siapa yang akhirnya menanggung biaya.
Gerai tempat transaksi dapat ditetapkan sebagai pintu pertama penanganan keluhan. Namun, biaya penyelesaian tidak harus otomatis menjadi beban gerai tersebut. Kesalahan penyajian oleh pegawai gerai berbeda dari kesalahan petunjuk penggunaan yang disusun kantor pusat.
Buat peta kejadian sederhana sebelum menyusun klausul perjanjian:
- Kesalahan pelaksanaan di gerai: pesanan tertukar, pelayanan tidak sesuai standar, atau produk disimpan secara keliru.
- Kesalahan sistem bersama: informasi produk dalam aplikasi tidak tepat atau promosi pusat tidak dapat dipenuhi.
- Masalah produk atau bahan: mutu tidak sesuai, kemasan rusak, atau dugaan bahaya keselamatan.
- Kasus lintas gerai: pelanggan membeli di satu lokasi, lalu meminta bantuan di lokasi lain.
Untuk setiap kategori, tetapkan penerima laporan, pengambil keputusan, pelaksana pemulihan, dan penanggung biaya sementara. Gunakan bukti untuk menentukan pembebanan akhir, bukan sekadar lokasi masuknya keluhan.
2. Tempatkan pengaturan dalam kerangka hukum yang tepat
Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba merupakan kerangka utama penyelenggaraan waralaba di Indonesia dan menggantikan PP Nomor 42 Tahun 2007. PP ini menegaskan bahwa hubungan waralaba didasarkan pada perjanjian dengan kedudukan hukum para pihak yang setara dan berlaku hukum Indonesia.
PP tersebut juga mengharuskan penyampaian prospektus penawaran waralaba paling lambat 14 hari kalender sebelum penandatanganan perjanjian. Apabila mekanisme keluhan menimbulkan kewajiban biaya bagi calon mitra, jelaskan kewajiban itu dalam pengungkapan hak dan kewajiban serta rancangan perjanjian. Jangan baru memperkenalkannya sebagai potongan tagihan setelah gerai beroperasi.
Selain aturan waralaba, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen relevan untuk pelayanan kepada pelanggan. Undang-undang ini mengatur kewajiban pelaku usaha dan tanggung jawab ganti rugi dalam keadaan yang ditentukan hukum. Pembagian biaya antara pemberi dan penerima waralaba tidak boleh digunakan untuk menghapus hak konsumen atau menolak kewajiban yang berlaku.
Bedakan pula klausul antarmitra dari syarat layanan pelanggan. Kesepakatan internal bahwa gerai menanggung suatu biaya tidak dengan sendirinya membebaskan pihak lain dari tanggung jawab hukum. Mintalah penelaahan hukum atas keduanya, terutama bila bisnis menawarkan makanan, layanan kesehatan, atau produk dengan risiko keselamatan.
3. Susun matriks kewenangan yang dapat dijalankan
Petugas gerai perlu mengetahui tindakan yang boleh dilakukan tanpa menunggu persetujuan pemilik merek. Sebaliknya, kasus berisiko tinggi tidak seharusnya diputuskan sendiri oleh petugas layanan.
Susun matriks dengan empat kolom: jenis keluhan, tindakan awal, batas kewenangan, dan jalur eskalasi. Misalnya, pesanan yang tertukar dapat langsung diperbaiki oleh penanggung jawab gerai setelah bukti transaksi diperiksa. Dugaan cedera atau kontaminasi harus segera diteruskan kepada penanggung jawab keselamatan yang ditunjuk.
Untuk setiap jalur, tentukan:
- waktu tanggapan awal dan waktu pembaruan informasi;
- bukti minimum yang perlu dicatat;
- bentuk pemulihan yang dapat ditawarkan;
- pihak yang berwenang menyetujui pengecualian;
- pengganti penanggung jawab ketika petugas utama tidak tersedia.
Tetapkan target internal berdasarkan kemampuan nyata, bukan janji yang sulit dipenuhi. Jangan menyamakan waktu tanggapan dengan waktu penyelesaian: pemeriksaan mutu mungkin memerlukan waktu, tetapi pelanggan tetap perlu menerima kabar perkembangan.
Untuk kasus keselamatan, utamakan tindakan perlindungan dan pengamanan bukti. Perdebatan mengenai biaya tidak boleh menunda respons yang diperlukan.
4. Jelaskan pembayaran dan penggantian biaya dalam perjanjian
Perjanjian sebaiknya menetapkan prinsip pembebanan biaya, sementara langkah pelayanan terperinci ditempatkan dalam prosedur kerja. Pemisahan ini membantu tim memahami mana kewajiban komersial dan mana petunjuk pelaksanaan.
Atur siapa yang membayar pelanggan terlebih dahulu, dokumen untuk meminta penggantian biaya, batas waktu pengajuan, serta cara menangani klaim yang ditolak. Jika penyebab belum diketahui, tetapkan pembiayaan sementara dan proses penetapan tanggung jawab setelah pemeriksaan.
Hindari klausul yang memungkinkan pemotongan sepihak tanpa rincian. Setiap pembebanan sebaiknya disertai identitas kasus, dasar keputusan, bukti biaya, dan kesempatan bagi mitra untuk memberikan tanggapan.
Contohnya, gerai mengganti produk pelanggan karena petunjuk penyimpanan dari pusat ternyata keliru. Gerai dapat melayani pelanggan terlebih dahulu, lalu mengajukan penggantian biaya melalui mekanisme yang disepakati. Contoh ini merupakan rancangan operasional, bukan penetapan otomatis mengenai tanggung jawab hukum.
5. Uji alurnya sebelum merekrut mitra
Lakukan simulasi menggunakan keluhan yang pernah muncul pada bisnis sendiri. Coba kasus sederhana, kasus lintas gerai, dan kasus yang terjadi saat penanggung jawab pusat tidak tersedia. Periksa apakah petugas mengetahui langkah berikutnya tanpa harus menghubungi pendiri untuk setiap keputusan.
Catat titik macet: persetujuan terlalu panjang, bukti sulit diperoleh, atau kewenangan pembayaran tidak jelas. Perbaiki alur sebelum memasukkannya ke paket kerja sama. Dalam komunitas waralaba, konsistensi pelayanan membutuhkan aturan yang bisa dijalankan oleh mitra, bukan hanya dipahami oleh pemilik bisnis.
Langkah praktis: siapkan satu matriks keluhan, satu formulir pencatatan, dan satu mekanisme penggantian biaya sebelum menawarkan waralaba. Pastikan ketiganya selaras dengan perjanjian serta tetap melindungi hak pelanggan.
Sumber
- Ubah Bisnis Jadi Penghasil Royalti: Panduan Urus Legalitas Bisnis ...
- WARALABA - PENYELENGGARAAN 2019. PERMENDAG NO. 71 TAHUN 2019 ...
- Berita waralaba Hari Ini - Kabar Terbaru Terkini
- [PDF] PENGATURAN WARALABA DI INDONESIA - OJS ITB-AD
- [PDF] PERATURAN - JDIH Kemendag RI
- PDF bahwa dalam yang - peraturan.go.id
- [PDF] PERATURAN - JDIH Kementerian Perdagangan
- [PDF] Legalitas Bentuk Perusahaan - MODUL 5



