Alfamidi Catat 183 Gerai Waralaba hingga September 2026
Jaringan Alfamidi mencapai 2.708 gerai hingga September 2026, termasuk 183 gerai waralaba. Pendapatan MIDI naik menjadi Rp16,67 triliun.
Diterbitkan

Alfamidi mencatat 183 gerai dengan skema waralaba dalam jaringan 2.708 gerainya hingga September 2026. Komposisi tersebut memperlihatkan posisi kemitraan di tengah jaringan yang masih didominasi gerai milik sendiri, bersamaan dengan kenaikan pendapatan dan laba PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI).
Waralaba hadir dalam dua format gerai
Berdasarkan laporan IDXChannel pada 2 November 2026, jaringan Alfamidi terdiri atas 2.436 minimarket milik sendiri, 182 minimarket dengan skema waralaba, 86 supermarket Alfamidi Super milik sendiri, satu supermarket dengan skema waralaba, serta tiga toko buah Midi Fresh.
Dengan menjumlahkan minimarket dan supermarket yang menggunakan skema waralaba, jumlah gerai kemitraan mencapai 183. Angka itu setara sekitar 6,8 persen dari keseluruhan jaringan 2.708 gerai, berdasarkan perhitungan atas rincian tersebut.
Komposisi ini penting bagi komunitas waralaba karena membedakan besarnya jaringan merek dengan jumlah gerai yang benar-benar dijalankan melalui skema waralaba. Angka total jaringan tidak dapat langsung dibaca sebagai jumlah mitra ataupun jumlah lokasi yang ditawarkan kepada calon mitra.
Selain itu, jumlah gerai waralaba juga tidak otomatis menunjukkan jumlah pemilik mitra. Rincian yang diberitakan merupakan hitungan lokasi usaha, bukan hitungan orang atau badan usaha yang mengelolanya. Karena itu, angka 183 lebih tepat digunakan untuk menggambarkan keberadaan gerai waralaba dalam jaringan Alfamidi.
Minimarket mendominasi jaringan kemitraan
Dari 183 gerai waralaba tersebut, sebanyak 182 merupakan minimarket. Hanya satu gerai berada dalam kategori supermarket. Dengan demikian, format minimarket mendominasi jaringan kemitraan Alfamidi yang tercatat hingga September 2026.
Jika gerai milik sendiri dan waralaba digabungkan berdasarkan formatnya, Alfamidi memiliki 2.618 minimarket dan 87 supermarket. Tiga gerai lainnya merupakan toko buah Midi Fresh. Pengelompokan ini membantu pembaca melihat dua hal yang berbeda: format toko dan skema pengelolaannya.
Pada format minimarket, gerai milik sendiri berjumlah jauh lebih besar daripada gerai waralaba. Pola serupa terlihat pada supermarket, dengan 86 gerai milik sendiri dibandingkan satu gerai waralaba. Artinya, keberadaan skema kemitraan berjalan berdampingan dengan jaringan gerai yang dimiliki perseroan.
Bagi calon mitra, perbedaan format ini layak menjadi titik awal pembahasan dengan pengelola merek. Informasi tentang minimarket tidak seharusnya langsung dianggap berlaku untuk supermarket. Kebutuhan lokasi, rincian investasi, dan pembagian tanggung jawab operasional perlu dikonfirmasi secara khusus untuk format yang sedang dipertimbangkan, bukan disimpulkan hanya dari jumlah gerainya.
Pendapatan naik, margin usaha relatif stagnan
Dari sisi keuangan, MIDI membukukan laba Rp705,57 miliar hingga September 2026, naik sekitar 19 persen sebagaimana diberitakan IDXChannel. Pendapatan meningkat 9,17 persen menjadi Rp16,67 triliun.
Laporan yang sama menyebut laba usaha perseroan pada kuartal III 2026 tumbuh 10 persen secara tahunan, terutama ditopang peningkatan pendapatan. Namun, margin laba usaha relatif stagnan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbedaan antara pertumbuhan laba usaha dan pergerakan margin perlu diperhatikan. Kenaikan nominal laba usaha tidak dengan sendirinya berarti perseroan menghasilkan porsi laba usaha yang lebih besar dari setiap rupiah pendapatan. Dalam laporan ini, pertumbuhan pendapatan menjadi penopang utama, sementara margin relatif tidak berubah.
Sejalan dengan peningkatan laba bersih, laba per saham dasar MIDI naik menjadi Rp21,10 dari Rp17,67. Angka tersebut merupakan ukuran kinerja bagi pemegang saham perseroan, bukan ukuran penghasilan penerima waralaba.
Bagi komunitas waralaba, pemisahan ukuran-ukuran ini membantu menjaga pembacaan kinerja tetap proporsional. Pendapatan, laba usaha, laba bersih, dan laba per saham memberi informasi tentang perseroan, tetapi tidak menggantikan laporan operasional sebuah gerai kemitraan.
Membaca kinerja perseroan sebelum menilai peluang
Besarnya jaringan dan pertumbuhan pendapatan menyediakan konteks awal untuk mengenali skala usaha Alfamidi. Namun, angka keuangan tingkat perseroan tidak boleh diperlakukan sebagai proyeksi keuntungan bagi setiap gerai waralaba.
Komposisi jaringan memperkuat alasan untuk berhati-hati: sebagian besar gerai Alfamidi merupakan gerai milik sendiri. Karena itu, laba perseroan tidak tepat dibagi dengan jumlah gerai waralaba untuk memperkirakan penghasilan mitra. Perhitungan semacam itu mencampurkan hasil usaha perusahaan dengan satu bagian dari jaringan pengelolaannya.
Calon mitra sebaiknya meminta penjelasan terpisah mengenai proyeksi penjualan, biaya operasional, kewajiban pembayaran, serta dasar asumsi yang digunakan untuk lokasi pilihannya. Informasi tersebut perlu dibaca bersama ketentuan perjanjian, bukan digantikan oleh angka laba perusahaan.
Inti praktis: gunakan data 183 gerai waralaba sebagai gambaran komposisi jaringan Alfamidi. Untuk menilai kelayakan kemitraan, tetap periksa perhitungan dan ketentuan pada tingkat gerai yang akan dijalankan.



